Showing posts with label Horror. Show all posts
Showing posts with label Horror. Show all posts

Tuesday, January 7, 2014

A Tale of Two Sisters

Di sebuah ruangan yang tampaknya rumah sakit jiwa, ada seorang dokter yang sedang berusaha berkomunikasi dengan seorang pasien yang diantarkan perawat ke ruangan itu. Pasien itu seorang gadis muda yang selalu tertunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya, tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia mengangkat wajahnya ketika si dokter menyuruhnya menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya.

Adegan lalu beralih ketika sebuah mobil sedang dalam perjalanan ke sebuah rumah di pedesaan. Mobil itu dikendarai oleh seorang supir yang membawa seorang pria berusia setengah baya dan dua orang gadis muda. Mereka akan pindah ke sebuah rumah baru disana. Nama mereka adalah Su Yeon dan Su Mi. Rumah baru mereka ternyata berada di tepi danau yang memiliki dermaga, mereka duduk disana dan menikmati keindahan alam disana, hingga ayahnya memanggil mereka untuk pulang.

Rumah itu cukup tua dan terbuat dari kayu dengan banyak pintu geser dari kaca. Seorang wanita muda tiba-tiba muncul menyapa mereka dan menegur karena mereka tidak masuk menyapanya lebih dulu sebelum bermain di dermaga. Perempuan itu adalah ibu tiri mereka. Su Yeon dan Su Mi tampaknya tidak terlalu menyukai perempuan itu dan meninggalkannya, menuju ke kamar mereka di lantai dua.

Hal pertama yang dilakukan Su Mi di kamarnya adalah memperbaiki waktu jam dindingnya ke 15.30 lalu membongkar tasnya dan mengeluarkan buku-buku miliknya. Ketika dia membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu, didalamnya berisi pakaian dengan warna dan motif yang sama persis. Seakan-akan dia tidak diizinkan memakai model, warna ataupun motif yang berbeda. Dia sangat terkejut.

Mereka berempat lalu makan malam di ruang makan sambil berdiam diri. Perempuan muda itu mencoba membuka percakapan, tapi tampaknya tak ada yang tertarik menanggapinya. Suasana benar-benar muram. Dia menegur Su Mi yang dianggap gegabah karena menyiapkan pakaian dalam ayahnya. Su Mi balas menegurnya karena sudah berani mengusik barang-barang di kamar tidurnya. Dia lalu meninggalkan meja makan diikuti oleh Su Yeon. Su Mi meminta agar adiknya memberitahunya kalau perempuan itu mengganggunya, jangan hanya diam saja. Bahkan si ayah pun tidak tidur sekamar dengan istri mudanya malam itu, dia memilih tidur di kursi. 

Malam itu, Su Yeon bermimpi. Ada yang membuka pintu kamar tidurnya. Begitu melihat barisan jari yang membuka pintu, dia membalikkan tubuh dan menutupi wajahnya dengan selimut. Ketakutan. Lalu selimutnya bergerak seperi ditarik dari bawah. Ketika dia membuka mata, ternyata semua itu hanya mimpi dan pintu kamarnya masih tertutup rapat. Karena ketakutan dia berlari ke kamar kakaknya. Su Mi bertanya ada apa, katanya dia mendengar suara-suara dan ada seseorang yang masuk ke kamarnya.

Su Mi memutuskan untuk turun ke lantai dasar dan menyelidiki. Di ruang bawah televisi menyala dengan layar statis, tidak ada yang menontonnya. Dia melihat ayahnya tidur di kursi tamu dan memperbaiki selimutnya. Tiba-tiba ibu tirinya muncul dan memarahinya karena membangunkan ayahnya. Su Mi tidak takut padanya dan melawan setiap perkataannya dan mengatakan kalau ia hanya turun untuk mengambil air minum. Di dalam kulkas dia menemukan bungkusan yang berlepotan darah, dia menjerit ketika membukanya. Isinya adalah burung peliharaan mereka. Ibu tirinya hanya duduk di depan televisi dengan layar statis itu, tidak perduli dengan teriakannya. Saat itulah Su Mi dan Su Yeon menyadari kalau ada yang aneh dengan ibu tiri mereka dan juga rumah itu. Mereka tidur bersama di kamar Su Mi

Su Yeon tidak bisa tidur nyenyak. Dia diganggu mimpi buruk tentang seorang gadis kecil bersimbah darah yang berlari ketakutan dikejar-kejar seorang wanita. Ketika terbangun, dia melihat bayangan seorang perempuan sedang merangkak di balik kursi. Sosok itu tiba-tiba berdiri dan menunjukkan seorang perempuan berambut panjang awut-awutan dengan kepala tertekuk kesamping. Dia tidak berjalan, tapi melayang dan dia sedang menuju ke arah Su Yeon yang terbelalak ketakutan. Lalu sosok itu menghilang begitu saja.

Ketika Su Mi terbangun, dia melihat pakaian dalam Su Yeon berdarah dan mengira adiknya itu sedang menstruasi. Dia lalu mengambil beberapa pembalut dari kamar ibu tirinya dan membereskan sprei yang ternoda darah. Mereka mencuci dan menjemur sprei itu di halaman. Su Mi lalu berjalan-jalan di hutan dekat rumah mereka dan tanpa sengaja menemukan sebuah pondok terlantar beratap melengkung dari kaca. Dia menemukan dua buah tas koper dan membawanya pulang. Di dalam tas itu dia menemukan berbagai perlengkapan wanita yang ternyata milik mendiang ibunya yang sudah meninggal, juga beberapa foto lama milik ayah dan ibunya. Merka juga menemukan berbagai asesoris dan pernak-pernik milik ibu mereka. Saat itu dia melihat bekas genggaman tangan yang membiru di lengan Su Yeon dan menanyakan siapa yang melakukan hal itu padanya. Tapi Su Yeon bungkam.

Su Mi menyadari kalau ibu tirinya lah yang melakukan hal itu dan menantangnya. Mereka berdebat kalau Su Mi harus menerima ya sebagai ibu tiri, suka atau tidak suka, sama seperti dia juga terpaksa harus menerima keberadaan mereka berdua sebagai anak tiri. Su Mi tidak merasa takut, tapi menjadi lebih marah. Dia melempar cangkir teh ibu tirinya itu ketika ibunya akan menuang teh. Lalu berlari ke kamarnya dan menangis. Ayahnya berusaha untuk membujuknya tapi dia tidak mau dibujuk.

Malam itu, paman dan bibi mereka datang untuk makan malam bersama. Ibu tirinya menjamu mereka dengan banyak makanan dan berusaha terlihat ceria, tapi wajah paman dan bibi Su Mi pun terlihat sesuram wajah ayahnya. Hanya ibu tiri yang terus berceloteh ria dan tertawa sendiri dengan candaan yang dibuatnya, sementara yang lain terdiam dan tidak menanggapi. Dia lalu terdiam dengan marah karena tak ada yang menanggapinya. Tiba-tiba, Mi Hee, bibi Su Mi terjatuh ke lantai sambil menjerit-jerit dan meronta-ronta. Dia berkelonjotan di lantai sampai mereka berhasil memasukkan obat ke dalam mulutnya. Si ibu tiri menjerit melihat kejadian itu. Dalam perjalanan pulang, Mi Hee menceritakan pada suaminya kalau dia melihat anak perempuan meringkuk di bawah bak cuci piring dalam keadaan kotor belepotan. Dan mereeka tidak tahu itu siapa.

Kembali ke rumah, si ibu tiri yang kecewa karena acara makan malam itu tidak berjalan sesuai yang direncanakannya, duduk termenung. Dia melihat ke arah laci di bawah bak cuci piring yang terbuka dan memperbaikinya. Secara tidak sengaja dia mengintip ke bawah bak cuci piring. Kosong. Lalu tiba-tiba dia mendengar suara gesekan dari arah meja makan, ketika dilihat, tidak ada apapun disana. Tapi dia melihat sebuah jepit rambut tergeletak di lantai, tadinya jepit rambut itu tidak ada disana. Dia memungutnya, tiba-tiba ada tangan yang terjulur dari bawah bak cuci piring dan menarik tangannya. Dia menjerit lalu melihat sebuah sosok berpakaian hijau berdiri di hadapannya. Suaminya memberinya obat dan mengatakan kalau dia hanya berhalusinasi. Tapi si ibu tiri mengatakan kalau ada banyak keanehan yang terjadi di rumah itu sejak Su Mi dan Su Yeon datang. Suaminya berkata dia akan berkeliling untuk melihat sekitar rumah.

Di teras depan dia melihat sangkar burung kenari kesayangan istri mudanya tergeletak di lantai. Di dalam, buruk kenari itu sudah mati bersimbah darah. Suaminya lalu membawa sangkar itu untuk menyingkirkannya, dia tidak melihat Su Yeon mengintip diantara semak-semak. 

Si ibu tiri yang marah ternyata dikunci di kamarnya tapi dia berhasil keluar dan masuk ke kamar Su Yeon untuk memarahinya. Di bawah selimut Su Yeon ditemukannya bangkai burung kenarinya. Dengan marah dia memukuli Su Yeon sambil menariknya turun dari tempat tidur dan menguncinya di dalam lemari sambil mencampakkan semua barang-barang milik mendiang ibunya ke dalam lemari. Su Yeon yang panik menjerit-jerit sambil memukuli lemari, ibu tirinya tidak perduli. Dia menyuruh Su Yeon meminta maaf terlebih dahulu baru akan diizinkan keluar dari lemari. Dia tetap dikurung di dalam lemari tanpa ada yang tahu.

Su Mi merasakan ada hal yang aneh dan berlari masuk ke kamar adiknya. Dia melihat kamar Su Yeon berantakan dan adiknya tidak ada disana. Dibukanya pintu lemari dan melihat Su Yeon yang ketakutan didalamnya. Dia memeluknya erat-erat dan mengeluarkannya dari sana. Sementara di halaman, si ayah menguburkan bangkai burung kenari di dalam sangkar. Sekilas dia melihat bayangan istrinya di jendela, tapi dia tidak yakin apakah istrinya itu  mengetahui apa yang sedang dikerjakannya atau tidak.

Ayahnya masuk ke kamar mereka dan memarahi mereka karena sudah berbuat yang aneh-aneh. Su Mi balik memarahi ayahnya yang dianggap tidak perduli kalau ibu tiri mereka sudah menyakiti Su Yeon terus menerus. Ayahnya lalu memarahi Su Mi karena menyebut-nyebut Su Yeon. "Su Yeon sudah meninggal. Kuatkan dirimu. Jangan menyebut-nyebut hal itu lagi." Su Mi terbengong sambil melihat ke arah Su Yeon yang juga kebingungan sambil menjerit-jerit mundur. Malam itu, ayahnya menelepon psikiater Su Mi dan mengatakan kalau kondisi psikis anaknya itu semakin parah. Ternyata Su Mi sedang dalam perawatan dokter jiwa.

Tiba-tiba Su Mi terbangun dari mimpi dan mendapati kalau dirinya sendirian di rumah tua itu dan pintu dalam keadaan terpaku dari dalam. Dia mendengar suara Su Yeon memanggil namanya, dia berlari mencarinya. Su Mi menemukan jejak berdarah di dalam rumah, seakan ada sesuatu yang berdarah telah diseret sepanjang koridor itu dan meninggalkan bekas. Dia menemukan bungkusan besar di selasar, tempat jejak darah itu berakhir. Sambil ketakutan dia menyentuh bungkusan besar dari kain itu dan berusaha membuka ikatannya tapi tidak berhasil. Dia mencari-cari pisau di dapur tapi tidak ada. Ketika dia kembali ke tempat bungkusan itu berada, bungkusan itu sudah hilang, diseret ke tempat lain. Ternyata sudah berada di dalam lemari tempat menyimpan tumpukan sprei.

Tiba-tiba ibu tirinya muncul sambil membawa teko berisi air panas dan hendak menyiramkannya ke arah Su Mi. Su Mi menghindar dan berhasil melukai tangan ibu tirinya dengan gunting. Tapi dia jatuh pingsan setelah kepalanya dipukul dengan keras. Ibu tirinya lalu menyeretnya ke tengah koridor lalu menyeret sebuah patung besar untuk dihantamkan ke kepala Su Mi. Tapi perhatiannya teralih ketika pintu tiba-tiba terbuka dan ayah Su Mi masuk. Dia melihat putrinya tergeletak di lantai, bersimbah darah.

Lalu ayahnya mengambil obat dari lemari dan membawanya ke si ibu tiri, menyuruhnya minum obat agar sembuh. Tiba-tiba masuk seorang wanita muda berpakaian rapi yang berwajah seperti ibu tirinya. Ternyata selama ini Su Mi mengalami halusinasi belaka. Dia tidak pernah bersama Su Yeon atau berjumpa dengan ibu tirinya sama sekali.

Su Mi akhirnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ibu tirinya menemuinya sebentar di kamar, tapi Su Mi mencengkram tangannya sangat keras hingga ia harus melepasnya dengan paksa. Ayah dan ibu tirinya lalu pergi meninggalkan dia disana. Su Mi terduduk sambil meneteskan air mata. Ia terkenang pada masa lalu ketika pertama kali ayahnya membawa si ibu tiri ke rumah mereka dan memperkenalkannya sebagai istri mudanya. Wanita itu adalah seorang perawat yang juga bertugas merawat ibunya di rumah. Ibunya sedang sekarat, penyakitnya tidak bisa disembuhkan dan mampu menolak keinginan ayahnya untuk menikah lagi. Ibunya akhirnya bunuh diri dengan menggantung diri di dalama lemari pakaian di kamar Su Yeon. Lalu tiba-tiba Su Mi tersenyum ketika melihat Su Yeon duduk di sampingnya, di tempat tidur rumah sakit.

Sementara itu, si ibu tiri ditunjukkan sedang termenung sendirian di rumah. Dia mendengar suara langkah kaki yang berlarian di lantai dua yang seharusnya kosong. Dia naik untuk memeriksa dan melihat bayangan di balik gordyn. Ternyata tidak ada apa-apa di baliknya. Tapi pintu tiba-tiba terhempas hingga menutup dan suhu kamar terasa sangat dingin. Pintu lemari terbuka dan dia memeriksanya. Tiba-tiba muncul sebuah bayangan gelap dari tumpukan sprei dan mengarah kepadanya. Dia terduduk sambil merangkak mundur ketakutan. Akhirnya dia tewas dibunuh oleh hantu yang keluar dari lemari itu.

Adegan kembali menujukkan ketika Su Yeon menemukan mayat ibunya yang tewas dengan menggantung diri di dalam lemari pakaian. Su Yeon yang ketakutan menarik-narik mayat ibunya dari dalam lemari tapi lemari tua yang berat itu terjatuh dan menimpanya. Dia tidak bisa melepaskan diri. Ibu tirinya naik untuk melihat apa yang terjadi. Dia menemukan lemari pakaian yang terjatuh dan tangan Su Yeon yang menggapai-gapai. Tapi dia tidak melakukan apapun untuk menolongnya, malah berjalan keluar kamar. Karena dia mengira kalau yang meminta tolong itu adalah si istri tua. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Su Mi yang menyuruhnya pergi dari rumah itu. Dengan marah ibu tirinya mengatakan bahwa Su Mi akan menyesali hal itu kemudian hari. Su Mi pergi dari rumah itu tanpa sempat melihat adiknya, Su Yeon tewas karena tertimpa lemari pakaian. Dia baru kembali ke rumah itu lagi, setelah ayahnya mengeluarkannya dari rumah sakit jiwa.

(2003)

Thursday, December 19, 2013

The Exorcism Of Emily Rose


Film ini diangkat dari kisah nyata tentang ritual pengusiran setan yang dilakukan Pendeta Moore atas seorang gadis muda bernama Emily Rose yang berujung pada kematian. Pendeta ini dituntut sudah melakukan tindakan kriminal, atas kelalaian nya, seorang gadis muda meninggal. Erin adalah seorang pengacara pembela yang ditunjuk untuk membebaskan pendeta Moore. Dia mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan Emily Rose dan Pendeta Moore untuk bisa membentuk kasusnya.

Dia menemui Jason, pacar Emily, yang bersaksi bagaimana Emily mengalami banyak hal aneh semasa hidupnya. Suatu haro, ia melihat Emily berlari di tengah hujan deras menuju ke sebuah gereja. Di dalam dia bertemu dengan dua wanita yang sedang berdoa, Emily melihat wajah mereka berubah menjadi seperti setan. Ketika Jason berhasil menyusulnya, dia melihat tubuh Emely tertekuk ke arah yang salah dan matanya merah. "Jangan sentuh aku", katanya. Tiba-tiba Emily terjatuh dan menangis sambil memohon agar Jason tidak meninggalkannya.

Erin mendengar cerita Jason dan mulai mengalami hal-hal yang aneh. Dia merasa takut. Pada malam hari, dia bangun dari tempat tidurnya karena tidak bisa tidur. Dia berjalan ke dapur dan menyalakan lampu, tapi lampu tidak menyala dan jam dinding di dapur ya pun tampaknya terhenti. Tiba-tiba pintu apartemen nya terbuka tapi tak ada siapa-siapa disana. Dengan ketakutan segera ditutupnya kembali dan dikunci.

Lalu ada adegan Pendeta Moore yang sedang tidur, di dalam penjara. Dia terbangun ketika mendengar ada suara yang menghitung dari angka 1-6. Dia mendekat ke jeruji selnya dan melihat bayangan. Refleks dia langsung berdoa agar dilindungi dari kekuatan jahat, bayangan itu pun menghilang.

Erin terlambat datang ke pengadilan di pagi harinya. Pengadilan ini membahas tentang penyebab logis dan medis atas meninggalnya Emily, dengan Pendeta Moore sebagai terdakwa penyebab kematiannya, Erin adalah pengaca pembelanya. Penuntut mengatakan kalau kematian Emily murni karena kesalahan pendeta Moore yang tidak mencari bantuan media, bukan karena adanya hal-hal magis. Erin meminta maaf pada Pendeta Moore karena datang terlambat, ia mengatakan kalau kegelapan sedang berusaha menyerang Erin dan dia harus berhati-hati.

Sebagai pidato pembukaannya, Erin menggunakan isu "kerasukan setan" sebagai penyebab kematian Emily dan "pengusiran setan" yang dilakukan oleh pendeta Moore adalah cara untuk menyelamatkannya. Dan ketika Emily tewas dalam proses pengusiran setan itu, murni karena resiko dan bukan kesengajaan.

Erin meminta Jason dijadikan sebagai saksi. Jason menceritakan ketika dia mengantar Emily yang gelisah pulang ke apartemen ya. Ketika dia terbangun, dilihatnya Emily tergeletak di lantai dengan posisi tubuh tertekuk ke belakang dan matanya terbelalak. Dia membawa Emily pulang ke rumah orang tuanya. Ayah Emily dan Jason memindahkannya ke tempat tidur dan memanggil pendeta Moore. Alice, adik Emily, naik ke kamar Emily untuk memberitahunya kalau pendeta Moore sudah datang. Alice menjerit melihat Emily mencakar-cakar dinding sambil memakan kecoa di lantai. Mendengar jeritan itu, ayahnya dan pendeta Moore datang menenangkannya. Tiba-tiba Emily bicara dalam bahasa Latin. Iblis itu mengatakan kalau dialah yang tinggal di dalam tubuh Emily dan pendeta Moore tidak akan pernah bisa mengusirnya. Iblis itu tidak takut padanya, bahkan dengan santainya bermain piano.

Penuntut hukum berusaha mencari tahu apakah ayah Emily bisa membedakan orang sakit jiwa dengan yang kerasukan setan dan ia bertahan kalau anaknya memang kerasukan setan, bukan gila. Erin memanggil doktor Adani sebagai saksi. Doktor ini mengkhususkan diri dalam penyelidikan kekuatan magis dan dunia gaib yang bisa menguasai manusia, seperti Emily. Doktor Adani mengatakan kalau proses pengusiran setan pada Emily gagal karena dokter memberikan obat Gambrutol padanya sehingga Emily tetap berada dalam kondisi kerasukan.

Erin kemudian mengetahui kalau ada dokter yang terlibat ketika proses pengusiran setan Emily dilakukan, yaitu dokter Cartwright. Pendeta Moore merahasikan keterlibatan dokter ini atas permintaan dokter tersebut, sampai akhirnya keterlibatan nya ditemukan. Erin menemui dokter Cartwright untuk menanyakan pendapatnya tentang proses pengusiran setan itu. Dokter itu mengatakan dengan jelas kalau memang ada kekuatan gaib yang terlibat dalam proses itu. Ketika Erin memintanya untuk bersaksi, dokter Cartwright mengatakan bersedia. Dia juga menyerahkan tep rekorder berisi rekaman pengusiran setan kepada Erin, katanya itu dikirim oleh pendeta Moore kepadanya.

Pendeta Moore menanyakan apakah Erin pernah mengalami hal-hal yang aneh dalam beberapa hari belakangan. Erin menceritakan kalau ia tanpa sengaja menemukan sebuah liontin emas dengan inisial namanya di tengah jalan, dianggapnya itu cukup aneh. Pendeta Moore meminta agar dia diizinkan duduk di kursi saksi, tapi Keuskupun Agung sudah mengatakan kepada Erin kalau pendeta Moore tidak boleh bersaksi tentang pengusiran setan yang dilakukannya di depan pengadilan karena akan membawa aib pada gereja. Bahwa Erin harus bisa membebaskan pendeta Moore dari hukuman, tanpa harus  mengizinkan dia bersaksi di pengadilan. Tapi sesudah dibujuk, Erin akhirnya bersedia.

Sebagai saksi, pendeta Moore menceritakan tentang pengalaman dan usahanya mendalami ritual pengusiran setan. Dia mempelajari doa-doa khusus dari buku-buku dan naskah kuno yang membahas tentang hal itu. Suatu hari dia terbangun pukul 3 pagi karena mencium sesuatu yang terbakar tapi suasananya sangat dingin. Ketika dia berjalan ke dalam gereja, dia melihat mozaik di jendela gereja seperti membara dan meneteskan darah. Dengan ketakutan, dia berlari keluar dari gereja dan kemudian melihat sosok gelap bertudung yang berdiri di balik jendela gereja.

Pendeta Moore menjelaskan kalau proses pengusiran setan Emily dilakukan secara terekam dan Erin membawanya ke ruang sidang untuk dijadikan barang bukti. Dan kaset itu pun diputar di ruang sidang. Ketika ritual akan dimulai, pendeta Moore mengatakan agar setiap orang tidak bertanya atau mendengar apapun yang dikatakan Emily selama proses berlangsung dan membiarkannya bekerja. Emily lalu diikat di tempat tidur dan pendeta Moore membacakan doa-doa untuknya.

Emily yang mulai kerasukan, melapaskan ikatannya dengan mudah dan menampar ayahnya yang berdiri di sampingnya. Pendeta Moore memaksa iblis itu memberitahukan namanya tapi dia menolak. Iblis itu hanya sibuk menghitung dari 1 sampai 6, lalu mengirim seekor kucing untuk menyerangnya. Begitu perhatian semua orang tertuju pada pendeta Moore, Emily melepaskan tali nya dan meloncat lewat jendela, berusaha melarikan diri. Mereka semua mengejar Emily keluar dan berhasil menangkapnya sebelum dia melarikan diri. Proses pengusiran setan kemudian dilanjutkan di halaman. Pendeta Moore berhasil memaksa iblis itu menyebutkan namanya. Dia adalah iblis yang merasuki Kain, Kaisar Nero di Roma, Judas Iskariot, Legion dan juga ada Lucifer. Jadi ada total enam iblis di dalam tubuhnya. Karena itulah dia selalu terdengar seperti menghitung dari 1-6. Karena itunjugalah ritual pengusiran iblis ini sulit untuk dilakukan, karena iblis yang berdiam di dalam tubuh Emily ada banyak dan sangat kuat. Iblis-iblis ini ini kemudian membuat kuda-kuda di istal menyerang ayah Emily hingga ritual itu terpaksa berhenti. Ketika Pendeta Moore meminta Izin Emily untuk kembali melanjutkan ritual itu keesokan harinya, tapi Emily menolak.

Jaksa penuntut berusaha membantah bukti kaset itu dengan mengatakan kalau Emily bisa saja membuat-buat ucapan dalam berbagai bahasa kuno yang dipakainya di dalam rekaman itu. Karena Emily juga mempelajari bahasa Latin, Ibrani bahkan bahasa Aramic. Dia berhasil memojokkan pendeta Moore tentang ritualnya itu. Saksi selanjutnya adalah dokter Cartwright, tapi tampaknya dia tidak datang hari itu. Hakim bersedia memundurkan waktu pengadilan sementara dan memberi waktu pada Erin untuk mencari dokter Cartwright. Dia berhasil menemukannya dan bertanya kenapa dia tidak jadi datang untuk bersaksi di pengadilan. Sepertinya dokter Cartwright berubah pikiran dan membatalkan niatnya untuk bersaksi di pengadilan karena ketakutan. Tepat ketika mereka berbicara sebuah mobil tiba-tiba muncul dan menabrak dokter Cartwright dari belakang hingga tewas.

Sementara itu, Erin mendapat teguran keras dari atasannya karena mengizinkan pendeta Moore bersaksi di pengadilan. Berita tentang kesaksian pendeta Moore tentang pengusiran setan itu menjadi headline di surat kabar dan membuat marah pihak Keuskupan Agung. Atasannya menyuruh Erin mundur dan kasus itu dan kalau dia pernah menjadikan pendeta itu sebagai saksi lagi, dia akan dipecat. Erin menemui pendeta Moore di penjara dan mengatakan kalau mereka sudah kalah. Pendeta Moore menyuruhnya bertahan dan menyerahkan sebuah surat untuk dibacanya. Dia mengatakan kalau semua hal buruk ini tidak akan berhenti sampai kesaksian tentang apa pengusiran setan Emily diberitakan secara tuntas. Erin akhirnya memanggil pendeta Moore kembali menjadi saksi, dan itu membuat marah atasannya yang juga hadir di ruang sidang. Atasannya langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Kali itu, pendeta Moore membacakan tentang surat Emily, yang sudah dibaca Erin sebelumnya. Surat itu berisi tentang pengalaman Emily bertemu dengan Maria. Emily menanyakan kenapa iblis itu tidak mau keluar dari tubuhnya, Maria menawarkan kalau Emily mau ikut dengannya dan meninggalkan raganya yang sudah dirasuki, bebas dari penderitaan. Tapi dia juga bisa tetap bertahan ditubuhnya dan berjuang mengusir setan itu. Emily memilih untuk tinggal. Di suratnya dia menulis:

"Banyak yang bilang kalau Tuhan sudah mati. Tapi aku ingin menyadarkan mereka kalau itu tidak benar dengan menunjukkan setan yang ada dalam diriku. Tuhan masih ada dan Dia akan mengalahkan setan itu."

Secara pribadi, pendeta Moore menganggap yang terjadi pada Emily adalah STIGMATA dan dengan sadar menyerahkan dirinya untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Ditemukan juga luka-luka pada tubuh Emily seperti luka pada tubuh Kristus, di tangan dan kakinya. Untuk menunjukkan kalau dunia gaib dan magis itu memang ada.

Pada pidato penutupan sidangnya, Erin mengatakan pendapatnya tentang keberadaan entitas yang lebih tinggi dari manusia. Keberadaan tentang malaikat dan iblis. Bahwa pendeta Moore sebenarnya sedang menolong Emily, bukan membunuhnya karena kelalaian. Pada akhirnya, juri memutuskan kalau pendeta Moore BERSALAH. Tapi juri merekomendasikan kalau pelaksanaan hukuman nya adalah hanya selama persidangan berlangsung saja. Dan karena persidangan sudah berakhir, maka hukuman penjaranya juga sudah berakhir dan pendeta Moore bebas.

Sesudah kejadian ini, Erin dianggap meraih kesuksesan besar. Dan atasannya yang sebelumnya sudah memecatnya datang kembali untuk meminta maaf dan mengajaknya bergabung lagi, tapi Erin menolak. Pendeta Moore terusir dari paroki nya dan harus mencari tempat lain, dia memilih untuk mengasingkan diri. Sementara Erin memutuskan tetap keluar dari kantornya dan pulang ke rumah untuk beristirahat, dia sangat lelah. 

(2005)


Related Posts with Thumbnails

  © Mirror On The Wall by Simply Fabulous Blogger Templates

Back to TOP